Jumat, 20 November 2015

DO'A KIRIMAN DAN KETAKUTAN

Suci dalam debu, adalah sebuah lagu yang sangat tua, namun aku begitu lekat pada untaian kata-kata di dalamnya. Begitupun dengan ayah dan ibuku, dia adalah sosok yang tua, namun mereka sangat melekat pada kepribadianku. Wajah mereka akan selalu terbayang dalam do'aku.

Saat ini, aku bingung untuk menentukan kemana arah diriku. Dentuman waktu yang membimbingku melangkah sejauh ini, juga bertanya, mau kemana dirimu itu? Aku bingung. Dari kebingungan itu, aku dipertemukan dengan perempuan cantik dan cerdas. Perempuan itu bermata indah, laksana berlian yang tak akan pernah bisa aku lunasi.

Dia berkata, "jadilah dirimu, aku tak akan ragu padamu, aku yakin kamu bisa menjadi dirimu". Waw!!! manis terdengar, namun aku masih ragu. Ragu pada kemampuanku untuk menjadi diriku. Mungkin, diriku baginya adalah seseorang dengan penghasilan besar, menguasai banyak orang, dan mampu mencintainya setiap waktu.

Keraguanku melahirkan ketakutan. Penghasilan besar adalah iming-iming yang akan menghabiskan waktuku untuk berbagi cinta dengan dirinya. Menguasai adalah praktek miring yang tetap saja menjadi kepalsuan jabatan, menurutku. Jika aku mencintainya, ya itu benar. Setiap waktu? Ya, itu juga benar. Namun, aku minta  dicintai sesuai dengan kebutuhanku, karena aku ingin berguna bagi banyak orang.

Lalu, apa hubungannya dengan orangtua?

Orangtua, mungkin mereka lah yang pertama kali berbahagia atas kebahagiaanku. Mereka lah yang pertama kali bersujud atas keberhasilanku. Orangtua adalah sumber keyakinan yang mendorongku untuk terus belajar. Mereka terus menengadahkan tangan kepada Rabb untuk kemudahan jalanku. Kemudahan jalan itu, adalah bertemu dengan seorang perempuan yang cantik dan cerdas tadi.

Seiring waktu berjalan, aku mencintainya bersama doa orangtuaku yang terus mengalir curahannya. Canda tawa bersamanya menggambarkan kebahagiaan yang semu. Mengapa? Karena aku ingin menjadi keinginannya. Aku ingin. Ayah, ibu, terima kasih untuk memudahkan jalanku agar bertemu dengan seorang perempuan yang dapat mendorongku untuk berhasil.

Aku berharap keinginan perempuan ini adalah "aku mampu menyayangi keluarga dengan baik". Bukan berpenghasilan besar dan menguasai orang banyak. Aku takut menjadi koruptor ulung. Aku sangat takut. Karena aku tahu, motif korupsi berasal dari perempuan (cantik dan cerdas).

A.F. Syarif 2015

Rabu, 18 November 2015

RUMIT DAN MUDAH, BISA SALAH GUNA


Dulu rumit, aku memandangnya sangat rumit,
Namun kini, itu semua mudah,
Aku belajar menyimpulkan dengan cara lain,
Namun,
Ada kerumitan yang egois
Ialah
Kerumitan yang memudahkan diri sendiri



Kerumitan adalah tempatku belajar menjadi seseorang yang mengerti. Kemudahan adalah tempatku bersyukur, karena kemudahan, bisa saja adalah kerumitan yang terjadi di masa laluku. Menekan amarah yang bergejolak di dalam hati, adalah sesuatu yang rumit beberapa tahun silam. Namun, sekarang aku merasa, menekan amarah adalah kemudahan. Itu karena Tuhan memberiku kesempatan untuk belajar, dan memperoleh nilai yang baik pada saat ujian.

Tulisan ini bukan tentang marah, ini secuil catatan tentang indahnya sebuah kerumitan. Aku pernah mengalami kerumitan dalam istilah percintaan, percintaan yang akrab dengan label "pacaran". Aku beruntung dapat belajar dari rumitnya keegoisan, pertengkaran, permintaan maaf, apalagi menyebutkan kesalahan. Aku adalah insan yang sangat beruntung.

Setelah melalui tahun-tahun yang pahit, aku berani untuk memulai kisah dengan seorang perempuan baru. Perempuan yang sering membicarakan pernikahan denganku, dan aku suka pembicaraan itu. Aku suka gambaran tentang pernikahan, seperti gumpalan makna dari seorang penyair, bahwa "pernikahan adalah gerbang penderitaan bagi seorang laki-laki". Itu mungkin benar. Dan, jika itu benar, aku suka kerumitan. Kerumitan lah yang mengajariku untuk mengenal kemudahan, setelahnya.

Aku tak akan banyak menuliskan perempuan ini, perempuan yang tidak ada duanya untuk takaran pasangan dan teman hidup. Dia adalah perempuan yang memiliki sosok seperti ibuku. Aku adalah seorang yang terlena dalam pelukan oedipus complex. Nyaman, aku sangat nyaman berada di dekatnya, dia bagaikan ibuku, yang ngomel ketika aku melakukan kesalahan, memeluk ketika aku sedang susah, dan tersenyum ketika aku membawa rejeki.

Itu saja.

Aku kembali pada kerumitan. Kalian tahu, hubunganku selalu rumit, dari dulu hingga aku bersama perempuan ini. Hubunganku selalu saja rumit. Namun, ada perbedaan pada karakter yang tumbuh di dalam kerumitan yang sama. Perbedaan itu, adalah "aku telah mengenali masalah, dan penyelesaian yang cukup akurat". Itulah sebabnya, aku selalu tersenyum bersama perempuanku saat ini, meskipun aku dan dia sering beradu pendapat.

Lihatlah senyumnya, senyum itu mampu melenakanku. Senyum itu sangat rumit bagiku, entah dia menyimpan sesuatu, atau senyum itu benar-benar tulus? Aku tak tahu. Tapi, ada satu hal yang jelas dari senyumnya. Senyum itu sangat memperjelas, bahwa dia adalah perempuan yang cantik dan anggun. Aku tahu itu. Begitulah aku memaknai kerumitan senyumnya. Aku memudahkan dengan kesimpulan yang lain, bahwa perempuanku saat ini adalah perempuan yang cantik.

Namun, ada satu hal yang aku tak berani memudahkannya, meskipun benar, itu adalah rumit. Aku benar-benar tak berani memberikan label "mudah" pada kasus yang satu ini. Bagaimana bisa seorang pejabat negara yang menghadapi banyak kerumitan sosial dalam negara, memudahkan dengan cara menghiasi covernya memakai uang negara? Koruptor ya istilahnya? Atau Pencuri? Wah, jangan-jangan, gara-gara aku suka memudahkan perempuanku, nantinya aku akan dituduh sebagai pencuri olehnya?

A.F. Syarif

Senin, 29 Juni 2015

TANDA TANYA UNTUK MASA DEPAN KITA

hari yang lalu
kita tertawa
mengisi waktu
seolah kita selalu muda
                       hari ini
                       kita terus berjalan
                       melalui hari
                       dengan kejelasan tujuan
hari esok
akan kita nanti
memeluk sosok
sampai mati

Kau ingat, waktu yang berlalu di masa pertemuan kita? Itu adalah waktu-waktu yang sangat memanjakan hubungan kita. Waktu yang sangat menuntut pertemuan pada kita, kekasih. Kita saling mengisi kekosongan, kebosanan, dan kesembronoan gejolak sepasang kekasih. Pada waktu itu, aku selalu merasa muda dan tak akan menua. Bagaimana denganmu?

Disini, hari-hari di masa kini. Masa yang menentukan arah pertemuan kita. Masa yang banyak mengajari kita tentang ikhlas dan mengerti. Kita masih berpegangan tangan. Bersama-sama melalui waktu meski terkadang tak bersua denganmu. Dan hari ini, aku selalu bermimpi untuk memilikimu di masa depan nanti. Jiwa dan ragaku ingin tumbuh lagi bersamamu, memiliki buah hati darimu, juga saling menjaga dan bercumbu.

Pelan-pelan, waktu terus berlalu. Hari ini berubah wujud menjadi hari yang baru. Terus berputar dan berganti. Aku semakin takut kekasihku. Aku takut kau tidak menjadi milikku dalam ikatan pernikahan. Ingin rasanya mengucap di telingamu, kau adalah perempuan paling berbeda yang pernah aku kenal. Tapi mungkin kau akan berkata, "kau mengatakan itu kepada semua perempuan dalam hidupmu!".

Kau tahu, kau adalah perempuan paling menjengkelkan, sulit ditebak, dan kadang-kadang meledak. Tapi suara tawamu, caramu menghormatiku, dan cara matamu malu-malu kucing kepadaku, itu tidak ada duanya. Darisana, aku tidak sadar bahwa aku belajar menerima dan mengerti tentangmu. Sekaligus menyadarkanku, kekuranganku juga banyak, wahai kekasihku.

O iya,
Aku tak suka merindu tapi tak bisa memelukmu dengan hangat
Aku tak suka memuji pada jarak yang jauh dan tak intim
Aku tak suka melihat tapi tak bisa mencium kedua matamu
Tapi,
Dari semua yang aku tak sukai,
Ada hal yang membuatku suka, yaitu AKU TAK BERUBAH BERSAMAMU.